Akhirnya, Ketemu Juga Sama Bloger Kondang Itu Bro…

Hi Bro…

Yup, akhirnya bisa ketemu dengan bloger kondang tanaha air. Siapa lagi kalau bukan lek Iwanbanaran.com. Ya meskipun ketemunya cuma lewat siaran langsung Highlights MotoGP di Trans7, ngoahaha…

2 3

Pada tayangan tanggal 15 November 2014 itu, Iwanbanaran.com menjadi pengisi acara bersama dengan sembalap Indonesia Ali Adrian, dan dipandu host neng Luci. Mantap bos, lek Iwanbanaran mampu tampil dengan apik, serta memberikan pandangannya seputar dunia MotoGP dan dunia balap di Indonesia…

So?? Jos gandos tenan lah pokoke, ngoahahaha….

Iklan

Bagaimana Asimo Membantu Mongtor RC213V Melaju Lebih Kencang…

Hi Bro…

MotoGP adalah balapan kelas premium yang ada di jagat raya ini. Tiap sembalap yang berhasil memenangi kejuaraan itu bisa ditahbiskan sebagai sembalap tercepat sejagat. Sehingga cukup wajar bila setiap sembalap yang ada di dunia membidik ajang MotoGP sebagai tolok ukur keberhasilan mereka. Sebut saja Nicky Hayden, Cal Crutchlow, adalah sembalap yang mampu berkiprah diajang MotoGP setelah pindah dari Superbike, dan berusaha sangat keras untuk tetap berada didalam panggung yang megah ini. Bahkan Marco Melandri dengan senang hati membalap untuk tim Aprilia MotoGP yang secara nyata belumlah kompetitif.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya, MotoGP adalah tentang enjin terbaik, sasis terbaik, dan suspensi terbaik, maka pada tahun-tahun belakangan ini, muncul satu faktor yang tingkat ke-penting-annya bisa disetarakan dengan hal-hal tersebut diatas, yaitu elektronik (khusunya kontrol traksi). Yup, dalam beberapa tahun terakhir, peran elektronik pada mongtor MotoGP menjadi sangat signifikan. Kita tentu masih ingat, bagaimana DaPed #26 berjumpalitan ketika kabel speed sensor yang ada disebelah roda belakang putus karena disenggol oleh kompatriotnya, Mark Markes (bener gini ya spellingnya?? ngoahaha).

Tahun ini, RCV adalah mongtor prototype paling ngacir dibanding dengan para rivalnya. Dengan power diatas 240 HP dan berat sekitar 160 Kg, memberikan PWR laksana moster pada mongtor ini. Ibaratnya, sebuah mobil Dodge Challenger membutuhkan power di kisaran 3100 HP (sebuah angka yang fantastis) dengan ban yang diperbesar untuk mampu menyamai akselerasi dari enjin RCV. Sebagai catatan, Dodge Challenger memiliki power ‘hanya’ 707 HP dengan berat dibawah 2000 Kg.

Dengan PWR yang sebegitu besarnya, tentu saja mongtor RCV akan cukup sulit dikendarai. Disinilah mulai terlihat peran dari elektronika (kontrol traksi) pada mongtor RCV dan mongtor-mongtor MotoGP yang lain. Secara sederhana, fungsi dari kontrol traksi adalah mencegah agar ban belakang yang diputar oleh enjin tidak berputar melebihi dari yang seharusnya sehingga dapat mencegah terjadinya crash. Kita tentu bisa membayangkan apa jadinya bila roda belakang berputar jauh lebih tinggi daripada roda depan, tentu saja mongtor akan slide, dan berpotensi crash. Terlebih saat mongtor dalam posisi miring melahap tikungan, dimana luas permukaan ban yang bersinggungan dengan aspal menjadi berubah-ubah pada tiap tikungan.

Enampuluhdelapan derajat...

Enampuluhdelapan derajat…

Yup, pada gelaran MotoGP, setting dari kontrol traksi tidaklah berubah dari race ke race, melainkan dari tikungan ke tikungan (edan tenan). Takeo Yokoyama, Technical Director dari tim Repsol, menginformasikan bahwa pada tiap tikungan ada istilah yang disebut dengan ‘slip target’. Ini berkaitan dengan kondisi tikungan, misalnya pada tikungan yang memiliki kemiringan agak besar yang mengarah kedalam tikungan, maka mongtor bisa melaju lebih cepat (seperti lintasan oval nascar yang miring kedalam). Namun pada tikungan yang rata, bila mongtor tidak memiliki kontrol traksi, maka kemungkinan slide akan lebih besar. Tetapi bila mongtor mempunyai teknologi yang bisa mencegah hal itu (slide), maka sembalap akan memiliki keyakinan yang tinggi untuk lebih cepat di tikungan.

Nah, lalu dimanakah hubungan antara sebuah mesin berkaki dua, dengan sebuah mesin ber-roda dua???

RCV with Asimo...

RCV with Asimo…

Disinilah peran dari seorang Masanori Takahashi, Chief Electric Engineer dari Honda Racing Corp, yang ditunjuk oleh Honda untuk bekerja dengan divisi Honda Asimo, dengan sebuah tantangan: “make the bike more self-aware” atau bisa diartikan untuk membuat mongtor RCV memiliki kewaspadaan diri (saya cm bisa bilang ‘wow’).

Secara khusus, mongtor RCV diharapkan memiliki teknologi yang lebih baik dalam menentukan kemiringannya. Adanya perangkat elektronik dan kontrol traksi pada RCV lengkap dengan semua sensornya, maka mongtor tersebut akan ‘bisa mengetahui’ posisinya terhadap lintasan (jian hebat tenanan). Nah disinilah Masanori Takahashi dan Asimo berperan, yaitu meningkatkan tingkat keakurasian dari sistem tersebut. Asimo telah berhasil menggunakan teknologi inklinometer multidimensi. Inklinometer yang terdiri dari sensor gyroscope dan accelerometer mampu memberikan data bagaimana posisi motor terhadap lintasan lengkap dengan perubahan-perubahan posisi motor tersebut.

gyroscope

gyroscope

Kemampuan sensor Asimo untuk tetap berdiri dan tidak terjatuh telah diterapkan pada Honda RC213V. Masanori Takahashi menyatakan, bukan postur dari mongtornya yang dikontrol. tetapi output dari enjinnya dengan dibantu dari sensor-sensor yang ada. Output enjin dikontrol untuk menghindari over-slip sehingga ketika mongtor terlalu cepat saat melaju di tikungan, maka output enjin akan dikurangi, kecepatannya roda belakang akan berkurang dan sudut kemiringan motor juga berkurang sehingga mongtor tidak crash (bila mongtor kencang dan slide di tikungan, maka sudut kemiringan mongtor akan semakin tinggi dan beresiko crash).

Yup, keuntungan terbesar dari teknologi ini adalah tingkat kepresisian dan responsifitas yang sangat tinggi dari motor RCV pada penilaian terhadap lingkungan, termasuk roll angle (sudut laju). Dan hebatnya lagi, Honda telah berhasil membuat sensor-sensor tersebut tetap bekerja dengan baik pada kondisi yang terpengaruh oleh gaya sentrifugal dan getaran yang sangat besar…

asimo2

Well, dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, maybe someday, RCV that racing in MotoGP tracks is the Asimo itself.. yup, mungkin suatu saat nanti, motor RCV yang membalap di ajang MotoGP adalah Asimo itu sendiri (maksudnya bukan robot manusia Asimonya yang balapan, tapi motor RCV itulah Asimonya)… Tapi untuk saat ini, engineer Honda menyatakan bahwa kemungkinan Asimo membalap menggantikan rider manusia adalah masih jauh dari kemungkinan… (Pedrosa dan Marquez aman dong, ngoahahaha).

Nah pertanyaan selanjutnya adalah, apakah pabrikan lain tidak memiliki teknologi ini? Mungkin punya, tapi sepertinya yang dimiliki oleh Honda tarafnya lebih advance…

So, apakah fbh belum yakin bahwa Asimo berperan cukup besar di mongtor RCV kebanggaan mereka??? Aneh lah bro, lha wong ada teknologi kok tidak dimanfaatkan, ngoahahaha…

Source: http://www.cnet.com/news/inside-motogp-from-asimo-to-faster-motorcycles/